UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBAHASA INDONESIA (PADA ASPEK BERBICARA)DENGANMENGGUNAKAN METODE SOSIODRAMA PADA SISWA KELAS V SDN 4 KOTARAJA TAHUN AKADEMIK 2012/2013

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Pada umumnya tujuan pendidikan adalah untuk menciptakan manusia yang berkualitas. Salah satu faktor yang perlu diperhatikan untuk mencapai tujuan yang dimaksud adalah dengan meningkatkan kualitas pembelajaran. Pendidikan bukan hanya berlaku selama bersekolah tetapi pendidikan itu berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan di lingkungan keluarga, masyarakat serta di sekolah. Oleh karena itu pendidikan merupakan tanggung jawab keluarga, masyarakat dan pemerintah. Pendidikan yang berlangsung di sekolah pada dasarnya untuk melatih, mendidik, membina agar peserta didik mampu berpikir. Melalui latihan berpikir inilah mereka memperoleh berbagai macam pengetahuan dalam memecahkan masalah yang timbul baik itu masalah yang terdapat di lingkungan keluarga maupun masyarakat.
Peningkatan mutu pendidikan anak didik bukan hanya memperoleh pengetahuan melalui pemberian masalah tetapi menemukan sendiri masalah. Hal ini merupakan suatu penghargaan bagi dirinya sehingga dapat menimbulkan kepuasan diri yang ditandai dengan terbentuknya rasa aman, mental sehat, terbuka, kreatif, dan sifat-sifat lain yang mendukung terbentuknya manusia seutuhnya.
Untuk mencapai mutu pendidikan utamanya pendidikan formal pada jenjang pendidikan dasar, sekolah lanjutan tingkat pertama dan sekolah menengah umum dilaksanakan berupa pembaharuan penyempurnaan dan kebijakan di bidang pendidikan.
Proses belajar mengajar akan terjadi interaksi timbal balik antara guru dan siswa dan antara siswa dengan siswa itu sendiri. Berhasil tidaknya proses belajar mengajar sangat ditentukan oleh keberhasilan guru dalam mengajar. Dalam dunia pendidikan khususnya di sekolah dasar pelajaran bahasa Indonesia di berikan mulai dari kelas 1 sampai dengan kelas 6 yang meliputi empat aspek yaitu berbicara, menyimak, mendengar dan menulis. Berbicara merupakan kenyataan yang tidak dapat dipungkiri di mana dan ke mana pun, berbicara secara efektif merupakan suatu unsur penting terhadap keberhasilan kita dalam semua kehidupan. Albert dalam Tarigan, (1984 : 26).
Berbicara pada hakikatnya melukiskan apa yang ada di hati. Proses belajar mengajar merupakan interaksi yang dilakukan antara guru dengan peserta didik dalam suatu pendidikan untuk mewujudkan tujuan yang ditetapkan. Seorang guru sudah barang tentu dituntut kemampuannya untuk menggunakan berbagai metode dalam pembelajaran di SDN 4 Kotaraja. Pada pelajaran bahasa Indonesia hanya dilakukan dengan menyuruh murid berdiri di depan kelas untuk berbicara misalnya bercerita atau berpidato. Sedangkan siswa yang lain diminta mendengarkan. Akibatnya, pengajaran berbicara kurang menarik. Siswa yang mendapat giliran merasa tertekan sebab di samping harus menyiapkan bahan sering kali juga melontarkan kritik yang berlebih-lebihan sehingga siswa merasa kurang tertarik kecuali ketika mendapat gilirannya.
Dengan melihat kenyataan di lapangan, diduga kurangnya kemampuan siswa dalam berbicara/mengungkapkan perasaan disebabkan oleh penyajian guru dalam pembelajaran yang sebagian besar menggunakan metode ceramah, tanpa peragaan atau gerakan-gerakan dan ekspresi wajah yang sesuai.
Apabila hal di atas dibiarkan berlarut-larut maka dapat mengakibatkan dampak seperti menurunnya prestasi belajar siswa serta dirasakan sulit bagi siswa untuk berbicara/mengungkapkan perasaan dengan nada dan gerak serta mimik wajah yang sebenarnya. Untuk dapat mengatasi hal di atas, dipandang perlu adanya penggunaan metode yang bervariasi.
Penggunaan metode sosiodrama adalah cara tepat bagi siswa untuk belajar dan berlatih berbicara dengan mengungkapkan perasaan melalui gerakan-gerakan serta ekspresi wajah, sehingga kemampuan berbicara siswa lambat laun semakin meningkat. Metode yang ditempuh dalam pembelajaran berbicara melalui metode soiodrama akan lebih baik jika guru benar-benar tepat dan baik dalam membelajarkan metodenya. Sehingga dengan metode yang dilakukan dapat membuahkan hasil yang memuaskan oleh karena dilakukan sesuai dengan langkah-langkah yang ada.
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis tertarik dan termotivasi untuk mengangkat judul “Upaya Meningkatkan Kemampuan Berbahasa Indonesia Pada Aspek Berbicara Dengan Menggunakan Metode Sosiodrama Pada Siswa Kelas V SDN 4 Kotaraja Tahun Akademik 2012/2013”.

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas, maka dapat diidentifikasi permasalahan sebagai berikut:
1. Pembelajaran lebih berpusat pada guru mengakibatkan siswa menjadi kurang aktif dalam pembelajaran.
2. Sebagian besar murid tidak tertarik dengan metode pengajaran guru yang hanya mengandalkan ceramah di depan kelas.
3. Kemampuan berbicara siswa khususnya di kelas V SDN 4 Kotaraja masih dibilang rendah.
4. Rendahnya prestasi belajar siswa pada mata pelajaran bahasa Indonesia.

C. Batasan Masalah
Batasan masalah pada penelitian ini adalah upaya meningkatkan kemampuan berbahasa Indonesia pada aspek berbicara dengan menggunakan metode soiodrama pada siswa kelas V SDN 4 Kotaraja Tahun Akademik 2012/2013.

D. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas maka rumusan masalah dalam penelitian ini yakni “Bagaimanakah dengan kemampuan berbahasa Indonesia pada aspek berbicara dengan menggunakan metode sosiodrama dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SDN 4 Kotaraja Tahun Akademik 2012/2013?”.
E. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka penulis mempunyai tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana penerapan metode soiodrama dalam upaya meningkatkan kemampuan berbahasa Indonesia pada aspek berbicara pada siswa kelas V SDN 4 Kotaraja Tahun Akademik 2012/2013?

F. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini dapat ditinjau dari dua segi, yaitu manfaat secara teoritis dan manfaat praktis
1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan landasan terkait didalam meningkatkan kemampuan berbicara serta sumbangsih nyata terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dalam rangka penyelenggaraan proses pembelajaran efektif yang menekankan pada partisipasi aktif siswa sebagai warga belajar yang dilakukan dengan perencanaan matang, kelengkapan alat, bahan dan media pembelajaran yang digunakan, serta sarana dan prasarana belajar yang memadai.
2. Manfaat Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi peningkatan pembelajaran di Sekolah Dasar pada umumnya, dan khususnya bagi proses pembelajaran di kelas V Sekolah Dasar. Lebih khusus bagi penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat yang bermakna:
a. Bagi Siswa
1) Meningkatkan aktivitas belajar siswa kelas V SDN 4 Kotaraja dalam upaya meningkatkan kemampuan berbahasa Indonesia pada aspek berbicara dengan menggunakan metode sosiodrama.
2) Meningkatkan keterampialan berkomunikasi siswa dalam upaya meningkatkan kemampuan berbahasa Indonesia di kelas V SDN 4 Kotaraja.
3) Meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SDN 4 Kotaraja dalam pembelajaran Bahasa Indonesia.
b. Bagi Peneliti
1) Melakukan perbaikan dan peningkatan pelayanan kepada peserta didik dalam proses pembelajaran di kelas.
2) Mengembangkan kompetensi guru dalam membuat perencanaan, melaksanakan dan mengevaluasi hasil belajar siswa dengan menggunakan metode sosiodrama.
3) Memperoleh pengalaman tentang keterampilan praktik dalam proses pembelajaran untuk meningkatkan aktivitas dan kreativitas siswa dalam pembelajaran terhadap materi pelajaran.
c. Bagi Sekolah
1) Diharapkan memberikan masukan yang positif untuk meningkatkan kualitas lulusan.
2) Kinerja guru menjadi lebih baik.
3) Memunculkan inovasi pembelajaran bahasa Indonesia sehingga pembelajaran lebih bermakna.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Deskripsi Teoritis
1. Konsep Berbicara
a. Pengertian Berbicara
Berbicara merupakan kegiatan berbahasa lisan yang dilakukan oleh manusia. Tarigan (1983:15) menjelaskan bahwa berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan pikiran, gagasan, dan perasaan. Tarigan (1984:15) menyatakan bahwa berbicara merupakan suatu bentuk perilaku manusia yang memanfaatkan faktor-faktor fisik, psikologis, semantik, dan lingkungan sedemikian ekstensif secara luas sehingga dapat dikatakan sebagai alat manusia yang paling penting bagi kontrol sosial. Pendapat yang hampir sama juga dikemukakan oleh Laksono (1982:25), bahwa berbicara atau bertutur adalah perbuatan menghasilkan bahasa untuk berkomunikasi sebagai salah satu keterampilan dasar dalam berbahasa. Berbicara adalah proses berpikir dan bernalar. Pembelajaran berbicara dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan berpikir dan bernalar. Pendapat lain mengemukakan, “Berbicara adalah keterampilan memproduksi arus sistem bunyi artikulasi untuk menyampaikan kehendak, kebutuhan, perasaan, dan keinginan pada orang lain” (Mukhsin dalam Carolina, 2001:18).
Sabarti dkk. (dalam Bukian, 2004:15) menyatakan, “Berbicara adalah peristiwa atau proses penyampaian gagasan secara lisan.” Sejalan dengan itu, Tarigan (1991:132) menegaskan, “Berbicara adalah keterampilan menyampaikan pesan melalui bahasan lisan.”
Berdasarkan pendapat yang disampaikan oleh para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa berbicara adalah salah satu keterampilan berbahasa yang bersifat ekspresif dan produktif lisan. Dikatakan produktif karena orang yang berbicara (pewicara) dituntut untuk menghasilkan paparan secara lisan yang merupakan cermin dari gagasan, perasaan, dan pikiran yang disampaikan kepada orang lain.
b. Hakikat Berbicara
“Berbicara pada hakikatnya merupakan proses komunikasi, sebab di dalamnya terjadi pemindahan pesan dari suatu sumber ke tempat lain”. Zamzani dan Haryadi, (1996 : 54). Berbicara merupakan bentuk perilaku yang memanfaatkan faktor-faktor fisik, psikologis, semantik, dan linguistik. Pada saat berbicara orang memanfaatkan faktor fisik yaitu alat ucap untuk menghasilkan bunyi bahasa. Bahkan organ tubuh lain seperti kepala, tangan, dan roman muka dimanfaatkan dalam berbicara. Faktor psikologis memberikan andil yang cukup besar terhadap kelancaran berbicara. Stabilitas emosi misalnya, tidak hanya berpengaruh pada kualitas suara yang dihasilkan oleh alat ucap, tetapi berpengaruh juga terhadap keruntutan bahan pembicaraan. Berbicara tidak lepas dari faktor neurologis yaitu jaringan syaraf neuron yang menghubungkan otak kecil dan mulut, telinga, dan organ tubuh lain yang ikut dalam aktivitas berbicara. Demikian pula faktor semantik yang berhubungan dengan makna serta faktor linguistik yang berhubungan dengan struktur bahasa yang selalu berperan dalam kegiatan berbicara. Bunyi yang dihasilkan alat ucap kata-katanya harus disusun agar menjadi lebih bermakna. Zamzani dan Haryadi, (1996 : 56). Selanjutnya menurut Stewart dan Kenner Zimmer dalam Zamzani dan Haryadi, (1996 : 56) memandang kebutuhan akan komunikasi yang efektif dianggap suatu yang esensial untuk mencapai keberhasilan setiap individu maupun kelompok.
Berbicara merupakan hal mudah namun bukanlah hal sepele, akan tetapi berbicara dengan memperhatikan langkah-langkah berbicara itu yang dianggap mudah dan baik.
“Berbicara merupakan cara berkomunikasi bagi manusia sebagai makhluk sosial yaitu suatu tindakan saling menukar pengalaman, saling mengemukakan dan menerima pikiran, saling mengutarakan perasaan dan mengekspresikannya”. Tarigan, (1984 : 67). Oleh karena itu dalam tindakan sosial suatu masyarakat dalam menghubungkan sesama anggota masyarakat tersebut diperlukan komunikasi. Pengajaran berbicara perlu memperhatikan dua faktor yang mendukung ke arah tercapainya pembicaraan yang efektif yaitu (1) faktor kebahasaan seperti ; (a). pelafalan bunyi bahasa, (b). penggunaan intonasi, (c). pemilihan kata dan ungkapan, (d). penyesuaian kalimat paragraf. Sementara faktor yang kedua yaitu faktor non kebahasaan meliputi ; (a). ketenangan dan kegairahan, (b). keterbukaan, (c). keintiman, (d). isyarat non verbal, dan (e). topik pembicaraan. Haryadi dan Zamzani, (1996 : 61).
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa berbicara adalah kegiatan berkomunikasi secara lisan yang di dalamnya berisi penyampaian pesan dari sumbernya ke tempat lain dan kadang kala disertai gerak serta mimik (ekspresi) sesuai dengan apa yang dibicarakan oleh pembicara.
c. Berbicara Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa
Linguis berkata bahwa “Speaking is language”. Berbicara adalah suatu keterampilan berbahasa yanf berkembang pada kehidupan anak yang hanya didahului oleh keterampilan menyimak, dan pada masa tersebutlah kemampuan berbicara atau berujar dipelajari. Berbicara berkaitan dengan penguasaan kosakata yang diperoleh anak melalui kegiatan menyimak dan membaca. Ketidakmatangan merupakan kendala yang dihadapi dalam proses belajar berbahasa. Perlu kita sadari bahwa keterampilan-keterampilan yang diperlukan untuk berbicara efektif banyak persamaannya dengan yang dibutuhkan bagi komunikasi efektif untuk terampil berbahasa (Greene & Petty, 1971 : 39-40).
Untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas, hubungan antara berbicara dengan keterampilan berbahasa lainnya, sebagai berikut:
1) Hubungan antara Berbicara dengan Menyimak
a) Ucapan (speech) biasanya diperoleh dari kemampuan menyimak dan meniru. Oleh karena itu contoh model yang disimak atau direkam oleh sang anak sangat penting dalam penguasaan kecakapan berbicara.
b) Kata-kata yang akan dipakai serta dipelajari oleh sang anak biasanya ditentukan oleh peransang (stimulus) yang mereka temui dan kata-kata berperan penting sebagai alat penyampaian gagasan dan keinginan sang anak.
c) Ujaran sang anak mencerminkan pemakaian bahasa di rumah dan dalam masyarakat tempatnya hidup.
d) Anak yang lebih muda lebih dapat memahami kalimat-kalimat yang jauh lebih panjang dan rumit ketimbang kalimat-kalimat yang biasa diucapkan.
e) Meningkatkan keterampilan menyimak berarti membantu meningkatkan kualitas berbicara seseorang.
f) Bunyi atau suara merupakan faktor penting dalam meningkatkan cara pemakaian kata-kata sang anak.
g) Berbicara dengan bantuan alat-alat peraga (visual aids) akan menghasilkan penangkapan informasi yang lebih baik pada pihak penyimak. Umumnya, sang anak mempergunakan bahasa yang didengarnya (Tarigan, 1980 : 1-2).
2) Hubungan antara Berbicara dengan Membaca
a) Performansi atau penampilan membaca berbeda sekali dengan kecakapan berbahasa lisan.
b) Pola-pola ujaran yang tuna-aksara mungkin mengganggu pelajaran membaca bagi anak-anak.
c) Membaca bagi anak-anak turut membantu meningkatkan bahasa lisan.
d) Kosakata khusus mengenai bahan bacaan haruslah diajarkan secara langsung. Seandainya muncul kata-kata baru dalam buku bacaan, maka guru hendaknya mendiskusikannya dengan siswa agar mereka memahami maknanya sebelum mereka mulai membacanya (Tarigan, 1980 : 4).
3) Hubungan antara Ekspresi Lisan dengan Ekspresi Tulis
a) Sang anak belajar berbicara jauh sebelum dia dapat menulis; dan kosakata, pola-pola kalimat, serta ide-ide yang memberi ciri pada ujarannya merupakan dasar bagi ekspresi tulis berikutnya.
b) Sang anak yang telah dapat menulis dengan lancar biasanya dapat menuliskan pengalaman dan pengetahuan baru yang didapatnya.
c) Ekspresi lisan cendrung kurang struktur, lebih sering berubah-ubah daripada komunikasi tulis.
d) Catatan, bagan, dan rangka ide-ide yang akan disampaikan pada suatu pembicaraan akan menolong siswa untuk mengutarakan ide-ide tersebut. Mereka lebih banayak memerlukan latihan berbicara (Tarigan, 2008 : 6).

d. Karakteristik Berbicara
Jeffery (dalam Mas’ud, 2005:66-68) mengatakan bahwa berbicara memiliki ciri khas yang tidak dimiliki oleh bentuk-bentuk komunikasi yang lain. Karakteristik berbicara tersebut adalah:
1) Berbicara bersifat purposif
Dengan pemahaman yang baik tentang karakteristik ini, pembicara diharapkan tahu pasti bahwa bercerita dilakukan seseorang dengan tujuan tertentu, misalnya (a) memberi tahu, (b) meyakinkan orang lain, (c) memengaruhi orang lain, (d) menghibur, (e) memberikan inspirasi, (f) mendamaikan atau melerai, dan sebagainya.
2) Berbicara bersifat interaktif
Pembicara sadar bahwa berbicara dilakukan karana ingin berhubungan dengan orang lain. Kita tiak perlu berbicara bila tidak ada lawan bicara (reicever).
3) Berbicara bersifat fana
Berbicara memiliki sifat mudah berubah, cepat berlalu dan hilang. Sekali kata-kata yang mengandung pesan tertentu diucapkan, sekali itu pula ia berlalu. Berbicara secara alami tidak bisa didengar ulang. Ini berarti bahwa pada detik pesan disampaikan dengan simbol-simbol fonetis, pada detik itu pula pendengar harus memahaminya. Hal ini menyarankan kepada pembicara agar memaksimalkan kecerdasannya alam berbicara, mulai dari persiapan hingga pelaksanaannya. Kecermatan dan ketepatan sangat diperlukan mulai dari ucapan, pemilihan kata, penyusunan kelompok kata, struktur kalimat, paraton sampai dengan persendian, tekanan, dan intonasinya.
4) Berbicara selalu terjadi pada bingkai tertentu
Berbicara tidak pernah terjadi dalam kepakuman. Berbicara selalu terjadi dalam tempat, waktu, situasi, dan kondisi tertentu. Berbicara yang efektif memperhitungkan dan menyesuaikan diri dengan waktu, tempat, situasi, dan kondisi. Tipe dan tindak komunikasinya sangat ditentukan oleh keempat faktor tersebut.
5) Berbicara diwarnai perbendaharaan pengalaman
Pengalaman membuktikan bahwa kita sering mengalami kesulitan melakukan komunikasi berbicara dengan orang yang memiliki latar pengalaman yang berbeda. Sebuah kata yang sama bisa ditafsirkan berbeda oleh kedua belah pihak yang sedang berkomunikasi karana mereka memiliki latar pengalaman dan kehidupan yang berbeda.
6) Berbicara alpa tanda baca
Dalam komunikasi tertulis, pemahaman dapat dibantu dengan penggunaan tanda baca, penggunaan huruf kapital, dan indentasi. Dalam komunikasi berbicara, hal itu tidak didapatkan. Oleh karena itu, ketepatan dan kejelasan ucapan, persendian, intonasi, dan gerak-gerik fisik merupakan faktor penting dalam rangka memahami pesan yang disampaikan.

7) Berbicara memiliki kosakata yang lebih terbatas dan distingtif
Pada umumnya, orang lebih banyak menangkap kosakata dari apa yang dibaca daripada yang didengarkan. Menyadari keadaan seperti ini, pembicara cenderung menyederhanakan kosakata yang dipakainya, baik secara kualitas maupun kuantitas.
2. Pengajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar
Sejak lama telah diketahui bahwa tujuan pengajaran bahasa Indonesia di sekolah-sekolah agar para siswa mampu menggunakan bahasa Indonesia untuk berkomunikasi. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam berkomunikasi dengan bahasa Indonesia baik lisan maupun tertulis (Diknas, 2003:11). Hal ini terkait dengan fungsi utama bahasa sebagai alat untuk berkomunikasi. Dengan demikian, setiap warga negara dituntut untuk terampil berbahasa. Bila setiap warga negara sudah terampil berbahasa, komunikasi antarwarga pun akan berlangsung dengan baik.
Ilmu bahasa seperti layaknya ilmu pengetahuan lainnya, merupakan ilmu yang memiliki disiplin tersendiri dan diajarkan di sekolah-sekolah. Pengajaran bahasa secara umum dilaksanakan di sekolah-sekolah berkaitan dengan empat keterampilan berbahasa. Dalam pengajaran, keempat keterampilan berbahasa itu berhubungan erat satu sama lain. Keempat keterampilan itu meliputi: keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis.
Pembelajaran Bahasa Indonesia diarahkan agar siswa terampil berkomunikasi. Komunikasi yang dimaksudkan di sini adalah suatu proses penyampaian maksud pembicara kepada orang lain dengan menggunakan saluran tertentu. Kaswanti Purwo mengemukakan bahwa “Pendekatan komunikatif merupakan pendekatan dalam pembelajaran bahasa yang lebih mementingkan penggunaan bahasa daripada pemilikan pengetahuan mengenai bahasa sebagai sistem yang melekat pada otak manusia.” Sementara Richard, dkk. (dalam Slamet, 2003:41) mengatakan bahwa pendekatan komunikatif merupakan pendekatan dalam pembelajaran bahasa yang mengarahkan siswa tidak semata-mata kepada penguasaan struktur, tetapi justru lebih mengarahkan siswa kepada penguasaan kompetensi komunikatif, sehingga siswa dapat berkomunikasi dengan baik dan benar dalam berbagai peristiwa komunikasi secara efektif. Kompetensi komunikatif yang dimaksud adalah kemampuan menggunakan keseluruhan aspek komunikasi dalam konteks komunikasi nyata.
Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa pendekatan komunikatif merupakan salah satu pendekatan pembelajaran bahasa yang lebih menekankan kebermaknaan fungsi bahasa dalam arti lebih mementingkan penggunaan bahasa daripada pemilikan pengetahuan tentang bahasa untuk mencapai kelancaran komunikasi melalui pembelajaran komunikatif, yaitu pembelajaran yang lebih berfokus pada komponen komunikatif dengan melibatkan secara langsung para siswa ke dalam situasi bahasa yang pragmatis, otentik, dan fungsional atau situasi bahasa sebenarnya.
Standar kompetensi mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk SD (Sekolah Dasar) dan MI (Madrasah Ibtidaiyah) yang terkait dengan keterampilan berbicara yaitu mengungkapkan gagasan dan perasaan, menyampaikan sambutan, berdialog, menyampaikan pesan, mendeskripsikan, dan mendramakan (Diknas, 2003:32).
Adapun materi berbicara yang terdapat dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) di antaranya, yaitu:
a. menyapa orang
b. memperkenalkan diri
c. menjelaskan isi gambar
d. menceritakan pengalaman
e. mendeskripsikan benda; tumbuhan; binatang; tempat
f. melakukan percakapan sederhana
g. bertanya
h. melakukan percakapan melalui telepon
i. menjelaskan urutan
j. menjelaskan petunjuk
k. menceritakan kembali isi dongeng
l. berwawancara dengan nara sumber
(Suyoto, 2003:32)
Di muka telah diuraikan bahwa fungsi bahasa yang utama adalah sebagai alat untuk berkomunikasi. Untuk itu, pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan agar siswa terampil berkomunikasi. Siswa dilatih lebih banyak menggunakan bahasa untuk berkomunikasi, bukan dituntut lebih banyak untuk menguasai pengetahuan tentang bahasa.
Standar kompetensi mata pelajaran bahasa Indonesia ini merupakan kerangka tentang standar kompetensi mata pelajaran bahasa Indonesia yang harus diketahui, dilakukan, dan dimahirkan oleh siswa pada setiap tingkatan. Kerangka ini disajikan dalam lima komponen utama, yaitu (1) standar kompetensi, (2) kompetensi dasar, (3) hasil belajar, (4) indikator, dan (5) materi pokok. Standar kompetensi mencakup aspek mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Aspek-aspek tersebut dalam pembelajarannya dilaksanakan secara integratif.
3. Penggunaan Metode Pembelajaran
Metode pembelajaran adalah strategi pengajaran sebagai alat untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Dengan memanfaatkan metode secara akurat, guru akan mampu mencapai tujuan pengajaran.
Pentingnya pemilihan dan penentuan metode, maksudnya adalah melakukan pemilihan dan penentuan metode yang bagaimana yang akan dipilih untuk mencapai tujuan. Pemilihan dan penentuan metode ini didasarkan adanya metode-metode tertentu yang tidak bisa dipakai untuk mencapai tujuan tertentu.
Surya (2003 : 71) mengemukakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan metode, maksudnya adalah bahwa metode pengajaran itu tidak berdiri sendiri tetapi dipengaruhi faktor-faktor lain. Secara umum yang mempengaruhi faktor-faktor dalam penentuan metode pengajaran adalah anak didik, tujuan pengajaran, situasi belajar mengajar, fasilitas dan faktor guru itu sendiri.
Kegiatan belajar mengajar di sekolah tidak semua siswa atau anak didik mampu berkonsentrasi dalam waktu yang relatif lama, daya serap anak didik terhadap bahan yang diberikan juga bermacam-macam, ada yang cepat, sedang, dan lambat.
Faktor intelegensi mempengaruhi daya serap anak didik terhadap bahan pelajaran yang diberikan menghendaki pemberian waktu yang bervariasi, sehingga penguasaan penuh dapat tercapai. Jadi, guru sebaiknya menggunakan metode yang dapat menunjang kegiatan belajar mengajar, sehingga dapat dijadikan sebagai alat yang efektif untuk mencapai tujuan pengajaran.
Pelajaran bahasa Indonesia merupakan subjek pembelajaran, oleh karena itu siswa merupakan orang yang melakukan kegiatan belajar. Sebagai pelajar, siswa harus berperan aktif dalam proses pembelajaran. Dilain pihak guru bertugas memfasilitasi siswa sebagai pelajar agar dapat belajar secara optimal dan penuh makna. Dengan demikian, tugas utama guru adalah membuat siswa belajar.
Kaitannya dengan pembelajaran yang menggunakan metode pembelajaran sosiodrama, tampak jelas bahwa guru sebagai pembelajar berfungsi sebagai fasilitator, organisator, atau moderator. Sedangkan siswa sebagai pelajar benar-benar melakukan kegiatan belajar, baik secara mental maupun secara emosional. Disinilah tampak pentingnya guru memiliki keterampilan membimbing siswa.
Metode secara harfiah berarti “cara”. Dalam pemakaian yang umum metode diartikan sebagai suatu cara atau prosedur yang dipakai untuk mencapai tujuan tertentu (Pupuh F. dan Sobry , 2007 : 55 ).
Sedangkan menurut Prof. Dr. Winarno Surahman ( 1961: 64 ) dalam Drs. B.Suryo Subirto (2002 : 148 ), menegaskan bahwa metode pengajaran adalah Cara-cara pelaksanaan dari pada proses pengajaran, atau soal bagaimana teknisnya sesuatu bahan pelajaran diberikan kepada murid-murid di sekolah.
Metode adalah suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam kegiatan belajar mengajar, metode diperlukan oleh guru dan penggunaannya bervariasi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai setelah pengajaran berakhir.
Seorang guru tidak akan dapat melaksanakan tugasnya bila dia tidak menguasai satu pun metode mengajar yang telah dirumuskan dan dikemukakan para ahli psikologi dan pendidikan (Syaiful bahri dan Zain, 1995 : 53).
Metode adalah cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun tercapai secara optimal (Wina Sanjaya, 2006 : 145).
Metode mengajar ialah cara yang digunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pengajaran (Nana Sudjana, 1987 : 76).
Metode mengajar/teknik penyajian adalah suatu pengetahuan tentang cara-cara mengajar yang dipergunakan oleh guru atau instruktur. Pengertian lain ialah sebagai teknik penyajian yang dikuasai guru untuk mengajar atau menyajikan bahan pelajaran kepada siswa di dalam kelas, agar pelajaran tersebut dapat ditangkap, dipahami dan digunakan oleh siswa dengan baik. (Roestiyah N. K, 2008 : 1).
Metode adalah cara guru menyampaikan materi pelajaran kepada siswa untuk mencapai tujuan tertentu (Anonim, 2006 : 13).
Winarno Surakhman (1961 : 65) dalam Syaiful Bahri ( 1995 : 53-54) mengemukakan lima faktor yang mempengaruhi penggunaan metode mengajar, yakni :
a. Tujuan dengan berbagai jenis dan fungsinya.
b. Anak didik dengan berbagai tingkat kematangannya.
c. Situasi berlainan keadaannya.
d. Fasilitas bervariasi secara kualitas dan kuantitasnya.
e. Kepribadian dan kompetensi guru yang berbeda-beda.
Berdasarkan berbagai pendapat yang dikemukan diatas dapat dikatakan metode merupakan suatu cara yang harus dikuasai oleh guru dalam rangka pencapaian tujuan pembelajaran. Dengan adanya metode guru mampu mentransfer ilmu pengetahuan pada peserta didik sehingga timbul suatu perubahan sikap atau prilaku keinginan untuk belajar.
4. Metode Sosiodrama
a. Metode Pembelajaran Sosiodrama
Sosiodrama berasal dari kata sosio dan drama. Sosio berarti sosial menunjuk pada objeknya yaitu masyarakat menunjukkan pada kegiatan-kegiatan sosial, dan drama berarti mempertunjukkan, mempertontonkan, atau memperlihatkan. Sosial atau masyarakat terdiri dari manusia yang satu sama lain terjalin hubungan yang dikatakan hubungan sosial. Drama dalam pengertian luas adalah mempertunjukkan atau mempertontonkan suatu keadaan atau peristiwa-peristiwa yang dialami orang.
Metode sosiodrama berarti cara menyajikan bahan pelajaran dengan mempertunjukkan dan mempertontonkan atau mendramatisasikan cara tingkah laku dalam hubungan sosial. Jadi sosiodrama ialah metode mengajar yang dalam pelaksanaannya peserta didik mendapat tugas dari guru untuk mendramatisasikan suatu situasi sosial yang mengandung suatu problem, agar peserta didik dapat memecahkan suatu masalah yang muncul dari suatu situasi sosial.
b. Tujuan Metode Sosiodrama
Tujuan menggunakan metode sosiodrama diantaranya adalah sebagai berikut:
1) Melatih anak-anak untuk mendengarkan dan menagkap cerita singkat dengan teliti.
2) Memupuk dan melatih keberanian. Misalnya dengan ditugaskan untuk mendramatisasikan di muka kelas, pada permulaannya tidak semua anak berani. Sedikit sekali yang sukarela atau tanpa ditunjuk. Bahkan ada kalanya anak-anak harus dipaksa. Tetapi lambat laun anak-anak berani sendiri.
3) Memupuk daya cipta. Dengan mendengar cerita tadi, bagaimana anak-anak menyatakannya dalam bentuk kegiatan lebih-lebih dengan suatu cerita yang belum selesai.
4) Belajar menghargai dan menilai kecakapan orang lain, dan menyatakan pendapatnya. Hal ini akan tampak apabila anak ditanya pendapatnya tentang dramatisasi yang dilakukan anak lain di muka kelas.
5) Untuk mendalami masalah sosial.
c. Syarat-syarat Metode Sosiodrama
Sosiodrama sebagai suatu metode mengajar hendaknya memenuhi 3 persyaratan utama (menurut Prof. Dr. S. Nasution ) dalam Engkoswara (1989):
1) Kelas harus mempunyai perhatian masalah yang dikemukakan. Ini berarti bahwa suatu persoalan hendaknya disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak-anak baik minat maupun kemampuan murid. Persoalan yang terlalu mudah atau terlalu sukar mungkin tidak menarik minat anak-anak.
2) Para pelaku harus mempunyai gambaran yang jelas tentang masalah yang dihadapi. Ini berarti bahwa pelaku harus mengerti dan memahami isi cerita untuk kemudian dapat dinyatakan dalam bentuk tingkah laku visual.
3) Sosiodrama hendaknya dipandang sebagai alat pelajaran dan bukan hanya sebagai alat hiburan. Karena itu dalam sosiodrama tidak terbatas pada mendramatisasikan tetapi supaya anak menaggapi, menilai atau memberikan kritik-kritik.
d. Langkah-langkah Metode Sosiodrama
Terdapat tiga langkah utama dalam menggunakan metode sosiodrama yaitu:
1) Persiapan
Persiapan sosiodrama terdiri dari menetukan pokok atau masalah sosial yang akan disosiodramakan, mempersiapkan pemain peranan dan mempersiapkan anak-anak sebagai pendengar atau penonton.
a) Menentukan masalah/pokok yang akan disosiodramakan dengan berprinsipkan:
(1) Persoalan atau pokok persoalan hendaknya memberikan berbagai kemungkinan atau dapat ditafsirkan bermacam ragam pendapat baik mengenai persamaan, perbedaan, kemungkinan pemecahan dan kelanjutannya.
(2) Persoalan yang dipilih hendaknya bertahap, mula-mula yang sederhana, dan pertemuan-pertemuan berikutnya mungkin yang agak sukar dan sedikit lebih bervariasi.
b) Guru menjelaskan kepada murid
Penjelasan dapat berupa isi permasalahan, peranan pelaku ataupun peranan penonton atau anak-anak lainnya. Persoalan perlu dijelaskan sampai selesai dan lengkap betul, tetapi harus jelas, bahkan ada kalanya suatu persoalan dikemukakan belum selesai untuk kemudian diselesaikan oleh anak-anak sendiri.
c) Pemilihan pelaku
Ini dapat dilakukan dengan menunjuk anak-anak yang kira-kira dapat mendramatisasikan atau dapat juga diajukan secara sukarela. Tetapi pada permulaan ada baiknya apabila guru menunjuk saja. Hal ini penting karena ada kalanya anak yang berani sukarela itu anak yang sekedar mau melucu untuk menarik perhatian orang sedangkan isi peroalan tidak diperdulikannya. Apabila ini terjadi sosiodrama dapat menyimpang dari tujuannya.
d) Mempersiapkan pelaku dan penonton
Para pelaku, cukup ditunjuk oleh guru. Sedangkan peranan masing-masing lebih baik diserahkan kepada mereka. Karena itu ada baiknya untuk sekedar persiapan singkat, para pelaku itu di suruh keluar kelas bersamaan selama tiga menit. Anak-anak lain yang ada di dalam kelas diberi penjelasan baik peranan mereka selaku penonton yang baik maupun sebagai anak/orang yang akan mengemukakan pendapatnya terhadap sosiodrama yang sebentar lagi akan berlangsung. Anak-anak ditugaskan untuk mengemukakan kritik-kritik dan mengumpamakannya nanti seandainya menjadi pelaku. Tentu saja perlu dijelaskan kepada anak-anak bahwa sosiodrama jangan diharap seperti sandiwara yang sempurna.
2) Pelaksanaan
Para pelaku yang sudah dipersiapkan selama 2 atau 3 menit, kemudian dipersilahkan untuk mendramatisasikan menurut pendapat dan kereasi mereka. Diharapkan aksi mereka spontan. Karena itu peranan guru disini mengawasi dan mencari kebebasan kepada pelaku dan mengawasi ketertiban kelas. Tetapi apabila para pelaku mengalami kemacetan, selayaknya guru bertindak. Caranya menugaskan anak lain untuk membantu melancarkan ataupun di beri isyarat. Pelaksanaan sosiodrama tak perlu selesai. Hal ini bermanfaat untuk kemudian diteruskan untuk dipikirkan kemungkinannya oleh anak-anak lainnya.
3) Tindak Lanjut
Sosiodrama sebagai metode mengajar tidak berakhir pada pelaksanaan dramatisasi melainkan hendaknya ada kelanjutan baik berupa tanya jawab, diskusi, kritik maupun analisa persoalan. Bahkan mungkin juga ada anak lain untuk mencobakan kembali memainkan peranan yang lebih baik apabila dramatisasi tadi sangat kurang. Atau lanjutan dari cerita yang telah didramatisasikan. Kepada para pelaku yang mendapat kritik, hendaknya diberi kesempatan untuk menyatakan maksudnya, mengapa ia berlaku demikian pada waktu dramatisasi tadi.
e. Konsep Pembelajaran dengan Menggunakan Metode Sosiodrama
Seperti yang telah dikemukkan terdahulu, metode adalah cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun tercapai secara optimal. Dengan demikian, metode dalam rangkaian sistem pembelajaran memegang peranan sangat penting. Salah satu metode sistem pembelajaran tersebut adalah metode sosiodrama.
Sosiodrama adalah sandiwara tanpa naskah ( script ) dan tanpa latihan terlebih dahulu, sehingga dilakukan secara sepontan. Masalah yang didramatisasikan adalah mengenai situasi sosial. Sosiodrama akan menarik bila situasi yang sedang memuncak, kemudian dihentikan. Selanjutnya diadakan diskusi, bagaimana jalan cerita seterusnya, atau pemecahan masalah selanjutnya. ( Syaiful Bahri dan Zain, 1995 : 115 ).
Tujuan yang diharapakan dengan penggunaan motode sosiodrama antara lain, menurut syaiful Bahri dan Zain ( 1995 : 100) :
1) Agar siswa dapat menghayati dan menghargai perasaan orang lain.
2) Dapat belajar bagaimana membagi tanggung jawab.
3) Dapat belajar bagaimana mengambil keputusan dalam situasi kelompok secara spontan.
4) Merangsang kelas untuk berfikir dan memecahkan masalah.
Roestiyah N. K (2008 : 90) mengemukakan tujuan dari teknik sosiodrama adalah agar siswa dapat memahami perasaan orang lain serta toleransi terhadap sesama. Sedangkan menurut Wina Sanjaya (2006 : 159) sosiodrama digunakan untuk memberikan pemahaman dan penghayatan akan masalah-masalah sosial serta mengembangkan kemampuan siswa untuk memecahkannya.
Dalam pelaksanaan metode sosiodrama agar berhasil dengan efektif, menurut Roestyah N. K (2008 : 91) perlu mempertimbangkan beberapa langkah-langkahnya, ialah:
1) Guru harus menerangkan kepada siswa untuk memperkenalkan teknik ini, bahwa dengan jalan sosiodrama siswa diharapkan dapat memecahkan masalah hubungan sosial yang aktual ada dimasyarakat, maka kemudian guru menunjuk beberapa siswa yang akan berperan masing-masing akan mencari pemecahan masalah sesuai dengan perannya. Dan siswa yang lain menjadi penonton dengan tugas-tugas tertentu pula.
2) Guru harus memilih masalah yang urgen, sehingga menarik minat anak. Ia mampu menjelaskan dengan menarik, sehingga siswa terangsang untuk berusaha memecahkan masalah itu.
3) Agar siswa memahami peristiwanya, maka guru harus bisa menceritakan sambil untuk mengatur adegan yang pertama.
4) Bila ada kesedian sukarela dari siswa untuk berperan, harap ditanggapi tetapi guru harus mempertimbangkan apakah ia tepat untuk perannya itu. Bila tidak ditunjuk saja siswa yang memiliki kemampuan dan pengetahuan serta pengalaman seperti yang diperankan itu.
5) Jelaskan pada pemeran-pemeran itu sebaik-baiknya, sehingga mereka tahu tugas peranannya, menguasai masalahnya pandai bermimik maupun berdialog.
6) Siswa yang tidak turut harus menjadi penonton yang aktif, disamping mendengar dan melihat, mereka harus bisa memberi saran dan kritik pada apa yang akan dilakukan setelah sosiodrama selesai.
7) Bila siswa belum terbiasa, perlu dibantu guru dalam menimbulkan kalimat pertama dalam dialog.
8) Setelah sosiodrama itu dalam situasi klimaks, maka harus diberhentikan, agar kemungkinan-kemungkinan pemecahan masalah dapat di diskusikan secara umum. Sehingga para penonton ada kesempatan untuk berpendapat, menilai permainan dan sebagainya,
9) Sebagai tindak lanjut dari hasil diskusi, walau mungkin masalahnya belum terpecahkan, maka perlu dibuka tanya jawab, diskusi atau membuat karangan yang berbentuk sandiwara.
Pendapat lain tentang langkah-langkah yang perlu dipertimbangkan dalam metode sosiodrama seperti yang dikemukakan Syaiful Bahri dan Zain (1995 : 100) yaitu:
1) Tetapkan dahulu masalah-masalah sosial yang menarik perhatian siswa untuk dibahas.
2) Ceritakan kepada siswa mengenai isi dari masalah-masalah dalam konteks cerita tersebut.
3) Tetapkan siswa yang dapat atau yang bersedia untuk memainkan peranannya di depan kelas.
4) Jelaskan kepada pendengar mengenai peranan mereka pada waktu sosiodrama sedang berlangsung.
5) Beri kesempatan kepada pelaku untuk berunding beberapa menit sebelum mereka memainkan peranannya.
6) Akhiri sosiodrama pada waktu situasi pembicaraan mencapai ketegangan.
7) Akhiri sosiodrama dengan diskusi kelas untuk bersama-sama memecahkan masalah persoalan yang ada pada sosiodrama tersebut.
8) Jangan lupa menilai hasil sosiodrama tersebut sebagai bahan pertimbangan lebih lanjut.
Berdasarkan pendapat di atas dapat dikatakan bahwa, dalam pelaksanaan metode sosiodrama terdapat langkah-langkah yang perlu menjadi pertimbangan oleh setiap guru, karena dengan memperhatikan langkah-langkah tersebut metode sosiodrama dapat dilaksanakan dengan baik dan sesuai dengan tujuan dalam pembelajaran.
f. Kelebihan dan Kelemahan Metode Pembelajaran Sosiodrama
Metode sosiodrama selain mempunyai beberapa kelebihan, juga mempunyai beberapa kelemahan, sebagai berikut :
1) Kelebihan Metode Sosiodrama
a) Siswa melatih dirinya untuk memahami dan mengingat isi bahan yang akan didramakan. Sebagai pemain harus memahami, menghayati isi cerita secara keseluruhan, terutama untuk materi yang harus diperankannya. Dengan demikian, daya ingatan siswa harus tajam dan tahan lama.
b) Siswa akan terlatih untuk berinisiatif dan berkreatif. Pada waktu main drama para pemain dituntut untuk mengemukakan pendapatnya sesuai dengan waktu yang tersedia.
c) Bakat yang terdapat pada siswa dapat dipupuk sehingga memungkinkan akan muncul atau tumbuh bibit seni drama dari sekolah. Jika seni drama mereka dibina dengan baik kemungkinan besar mereka akan menjadi pemain yang baik kelak.
d) Kerjasama antar pemain dapat ditumbuhkan dan dibina dengan sebaik-baiknya.
e) Siswa memperoleh kebiasaan untuk menerima dan membagi tanggung jawab dengan sesamanya.
f) Bahasa lisan siswa dapat dibina menjadi bahasa yang baik agar mudah dipahami orang lain (Syaiful Bahri dan Zain, 1995 : 101).
g) Dapat memupuk keberanian dan percaya diri siswa.
h) Memperkaya pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diperlukan dalam menghadapi situasi sosial yang problematis.
i) Dapat meningkatkan gairah siswa dalam proses pembelajaran (Wina Sanjaya, 2006 : 158).
Selain itu kelebihan dari metode sosiodrama, yakni siswa lebih tertarik perhatiannya pada pelajaran, karena masalah-masalah sosial sangat berguna bagi mereka. Karena mereka bermain peranan sendiri, maka mudah memahami masalah-masalah sosial itu, maka ia dapat menempatkan diri seperti watak orang lain itu.
Ia dapat merasakan perasaan orang lain, dapat mengakui pendapat orang lain, sehingga menumbuhkan sikap saling pengertian, tenggang rasa, toleransi, dan cinta kasih terhadap sesama mahkluk akhirnya siswa dapat berperan dan menimbulkan diskusi yang hidup, karena merasa menghayati sendiri permasalahannya. Juga penonton tidak pasif, tetapi aktif mengamati dan mengajukan saran dan kritik (Roestiyah N. K, 2008 : 93).
2) Kelemahan Metode Sosiodrama
a) Pengalaman yang diperoleh melalui sosiodrama tidak selalu tepat dan sesuai dengan kenyataan di lapangan.
b) Pengelolaan yang kurang baik, sering sosiodrama dijadikan sebagai alat hiburan, sehingga tujuan pembelajaran menjadi terabaikan.
c) Faktor psikologis seperti rasa malu dan takut sering mempengaruhi siswa dalam melakukan sosiodrama. ( Wina Sanjaya, 2006 : 158 ).
Kelemahan lain dari metode sosiodrama, yaitu :
a) Sebagian besar anak yang tidak ikut bermain drama mereka menjadi kurang kreatif.
b) Banyak memakan waktu, baik waktu persiapan dalam rangka pemahaman isi bahan pelajaran maupun pada pelaksanaan pertunjukkan.
c) Memerlukan tempat cukup luas, jika tempat bermain sempit menjadi kurang baik.
d) Sering kelas lain terganggu oleh suara para pemain dan para penonton yang kadang-kadang bertepuk tangan dan sebagainya (Syaiful Bahri dan Zain, 1995 : 102).
e) Guru tidak menguasai tujuan intruksional penggunaan teknik sosiodrama untuk suatu unit pelajaran, maka sosiodramanya juga tidak berhasil.
f) Dengan sosiodrama jangan menjadi kesempatan untuk menumbuhkan sifat prasangka yang buruk, ras diskriminasi, balas dendam dan sebagainya sehingga menyimpang dari tujuan semula.
g) Bila guru tidak memahami langkah-langkah pelaksanaan metode ini, sehingga mengacaukan berlangsungnya sosiodrama ( Roestiyah, 2008: 93).
Dapat disimpulkan bahwa, dalam proses kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan metode sosiodrama memiliki kelebihan yang dapat menumbuhkan potensi dan bakat yang terdapat pada setiap peserta didik untuk dikembangkan, sehingga dengan potensi dan bakat yang ada, peserta didik memiliki kemampuan untuk mengahadapi berbagai persoalan dan pemecahannya.
Kelemahan yang terdapat pada metode sosiodrama, seyogyanya guru sebagai fasilitator, pengarah dan pembimbing harus memiliki kemampuan untuk dapat meminimalisir kelemahan-kelemahan tersebut sehingga tidak menghambat proses pembelajaran yang akan dilaksanakan.

B. Penelitian yang Relevan
1. Arifuddin, 2009. Penerapan Metode Permainan Simulasi Untuk Meningkatkan Kemampuan Berbicara Pada Siswa Kelas V Sekolah Dasar Negeri No.1 Banjar Tegal Singaraja. Skripsi, IKIP Negeri Singaraja. Penerapan model pembelajaran permainan simulasi dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa kelas V SD No.1 Banjar Tegal Singaraja dalam pembelajaran keterampilan berbicara. Hal ini terlihat dari skor aktivitas belajar siswa dari siklus ke siklus selama metode simulasi diterapkan. Siklus I rata-rata skor aktivitas belajar siswa sebesar 13,5 meningkat menjadi 15,81 pada siklus II. Pada siklus I aktivitas belajar siswa masih tergolong cukup aktif. Sementara pada siklus II aktivitas belajar siswa meningkat dengan kategori aktif.
Hal ini terbukti dari skor hasil belajar siswa dari siklus ke siklus selama metode simulasi diterapkan. Siklus I rata-rata skor hasil belajar siswa adalah 6,85 meningkat menjadi 7,90 pada siklus II. Dari siklus I ke siklus II terjadi peningkatan sebesar 15,32%. Ketuntasan klasikal pada siklus I sebesar 72,7% (belum memenuhi tuntutan kurikulum) meningkat menjadi 90,9% pada siklus II. Pada siklus II ini ketuntasan belajar klasikal yang dicapai sudah memenuhi tuntutan kurikulum.
2. Libriana Rahmawati, 2009. Peningkatan Keterampilan Bermain Peran Dengan Metode Sosiodrama Pada Siswa Kelas VIII A SMP N 1 Mayong Kabupaten Jaepara Tahun Ajaran 2008/2009. Skripsi, Universitas Negeri Semarang. Hasil yang diperoleh setelah penilitian dilaksanakan cukup memuaskan. Secara umum siswa dapat dikatakan sudah mengalami peningkatan dalam pembelajaran bermain peran. Peningkatan itu terlihat dari perubahan nilai ratarata dari siklus I ke siklus II sebesar 6,94%. Pada siklus I, nilai rata-rata yang diperoleh siswa sebesar 68,83, sedangkan pada siklus II, hasil yang dicapai sebesar 75,77. peningkatan dari prasiklus ke siklus II adalah 15,25%.Nilai rata-rata yang diperoleh siswa sudah memenuhi batas ketuntasan yang telah ditentukan yaitu lebih dari 70.

C. Kerangka Berpikir
Berbicara merupakan salah satu aspek keterampilan berbahasa yang dituntut dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang yang terampil berbicara cenderung berani tampil di masyarakat. Keterampilan berbicara ini sangat penting posisinya dalam kegiatan belajar-mengajar. Pentingnya keterampilan ini bukan saja bagi guru, tetapi juga penting dikuasai oleh siswa sebagai subjek didik.
Untuk mencapai tujuan pembelajaran, guru sudah tentu menggunakan beberapa cara untuk mencapai tujuan tersebut. Salah satu cara yang digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran ialah dengan menerapkan metode soiodrama. Dengan menggunakan metode sosiodrama merupakan suatu cara untuk mengembangkan cara belajar siswa aktif dengan memperaktikkan pengalaman belajar secara langsung, sehingga hasil yang diperoleh akan tahan lama dalam ingatan, tidak mudah dilupakan siswa.
Dengan metode ini juga, anak belajar berpikir analisis dan mencoba memecahkan problema yang dihadapi sendiri, kebiasaan ini akan ditransfer dalam kehidupan bermasyarakat.

D. Hipotesis Tindakan
Jika metode sosiodrama diterapkan dalam pembelajaran bahasa Indonesia, maka dapat meningkatkan kemampuan berbahasa sehingga dapat meningkatkan kemampuan berbicara.

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas (action research). Adapun pengertian penelitian tindakan menurut Kemmis (via Sanjaya, 2010), penelitian tindakan adalah suatu bentuk penelitian reflektif dan kolektif yang dilakukan oleh peneliti dalam situasi sosial untuk meningkatkan pengalaman praktik sosial mereka. Selanjutnya menurut Arikunto (2006 : 3), penelitian tindakan kelas (PTK) merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan yang sengaja dimunculkan dan terjadi di dalam kelas secara bersama. Adapun karakteristik penelitian tindakan kelas yaitu inkuiri, kolaboratif, dan reflektif.

B. Setting Penelitian
1. Tempat dan Waktu Penelitian
a. Tempat Penelitian
Tempat yang dipilih untuk penelitian tindakan ini adalah di SD Negeri 04 Kotaraja yang beralamat di Pegubukan Petak, Dusun Dalem Lauk, Desa Kotaraja, Kec Sikur, Kab Lombok Timur, merupakan tempat perbatasan Desa Kotaraja bagian selatan dengan Desa Loyok.
b. Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan mulai dari bulan Desember 2012 sampai dengan bulan Februari 2013, yaitu pada semester II Tahun Akademik 2012/2013. Dalam penelitian ini, peneliti hanya melaksanakan pembelajaran dalam dua siklus.
2. Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah siswa kelas V (lima) Semester II Tahun Akademik 2012/2013 di SD Negeri 04 Kotaraja yang berjumlah 29 siswa yang terdiri dari 14 orang siswa laki-laki dan 15 orang siswa perempuan, dengan tingkat kecerdasan rata-rata. Tempat tinggal siswa tidak jauh dari sekolah, karena dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Bahasa yang biasa digunakan adalah bahasa daerah yaitu bahasa sasak.

C. Desain Penelitian
Sesuai dengan jenis penelitian yang dipilih, yaitu penelitian tindakan, maka penelitian ini menggunakan model penelitian tindakan dari Kemmis dan Taggart (dalam Arikunto, 2006: 16), yaitu berbentuk spiral dari siklus yang satu ke siklus yang berikutnya. Dengan kata lain, penelitian ini merupakan penelitian berlanjut (siklus) yang terdiri dari dua siklus dengan empat kegiatan utama, yaitu perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi seperti model PTK (Penelitian Tindakan Kelas) yang dikembangkan oleh Kemmis McTaggrt (Gambar. 1) penelitian tindakan kelas pada umumnya diarahkan untuk kebutuhan praktis dalam kependidikan. Selama ini memang banyak penelitian-penelitian yang dilakukan oleh guru (peneliti), tetapi kurang dirasakan dampaknya dalam meningkatkan mutu pembelajaran di kelas. Dalam penelitian tindakan kelas guru dapat meneliti sendiri dalam praktik pembelajaran yang dilaksanakannya di dalam kelas, karena secara langsung guru sangat berperan dalam penelitian dan terlibat juga dalam proses perencanaan, observasi, tindakan dan refleksi.
Langkah-langkah penelitian yang akan ditempuh apabila digambarkan adalah sebagai berikut.

SIKLUS I

SIKLUS II

Gambar. 1
Model Penelitian Tindakan Kelas Kemmis dan Mc. Taggart

1. Perencanaan
Pada tahap perencanaan ini, guru menyusun rencana pembelajaran, perencanaan tersebut dibuat dalam bentuk Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang dilengkapi dengan beberapa instrument penelitian, seperti pedoman observasi dan sebagainya. Dan juga menyediakan media pembelajaran yang dapat menunjang kegiatan belajar mengajar didalam kelas.
2. Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan tindakan merupakan kegiatan pelaksanaan langkah-langkah pembelajaran yang telah disusun dalam bentuk RPP. Pelaksanaan tindakan dilaksanakan oleh penulis sebagai peneliti yang berkolaborasi dengan guru sebagai observer.
Dalam hal ini, peneliti dalam pelaksanaan tindakan bertugas melaksanakan rencana tindakan pembelajaran mengungkapkan isi cerita melalui metode soiodrama, lalu mengkomunikasikan tindakan yang akan dilakukan sehingga memperoleh kesepakatan antara penulis (peneliti) dengan guru sebagai observer.
Guru melaksanakan proses pembelajaran dengan membahas topik cerita anak dengan kompetensi dasar dan indikator: memerankan tokoh drama dengan lafal, intonasi, penghayatan, dan ekspresi yang sesuai karakter tokoh.

3. Pengamatan/Observasi
Menurut Suyanto dalam (1997 : 16) dalam Kunandar, bahwa observasi adalah mengamati atas hasil atau dampak dari tindakan yang dilaksanakan atau dikenakan terhadap siswa.
Observasi ini dilakukan dengan cara terus menerus mulai dari siklus I sampai siklus yang diharapkan tercapai. Observasi yang dilakukan dalam satu siklus dapat memberikan pengaruh pada penyusunan perencanaan tindakan siklus berikutnya. Hasil observasi ini kemudian dijadikan bahan refleksi yang berpengaruh pada perencanaan siklus berikutnya.
4. Refleksi
Refleksi merupakan bagian yang sangat penting untuk memahami dan memberikan makna terhadap proses dan hasil pembelajaran. Guru (observer) dan guru (peneliti) mendiskusikan hasil proses pembelajaran yang telah dilaksanakan.
Dari data hasil observasi rekan sejawat dan data hasil observasi peneliti terhadap siswa, maka diperoleh gambaran tentang pembelajaran bahasa Indonesia yang dilakukan. Dengan data tersebut, guru (peneliti) dapat menentukan langkah berikutnaya yaitu memperbaiki proses pembelajaran dan menyusun tindakan untuk siklus berikutnya.

D. Prosedur Penelitian
Prosedur yang dilakukan pada penelitian ini adalah dengan mengkaji semua tindakan yang ada dalam setiap siklus, yang terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Rancangan yang dilakukan dalam penelitian ini terdiri dari dua siklus.
1. Tahap Pesrsiapan dan Perencanaan
Sebelum melaksanakan siklus, peneliti terlebih dahulu melakukan persiapan dan membuat perencanaan. Tahap persiapan dan perencanaan tersebut adalah meminta izin kepada kepala sekolah SDN 4 Kotaraja dan juga guru kelas yang akan menjadi observer dalam penelitian tersebut, menentukan kelas yang akan digunakan dalam penelitian yaitu kelas V, kemudian melakukan analisis kurikulum dan kajian pustaka tentang bahan ajar dalam mengungkapkan isi cerita dengan metode sosiodrama untuk menyusun langkah-langkah atau rencana pembelajaran, selanjutnya membuat instrument penelitian yang akan dilaksanakan dalam mengamati aktivitas guru dan siswa selama proses pembelajaran dengan menggunakan metode soiodrama, terakhir peneliti membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang sesuai dengan kurikulum untuk mengetahui kompetensi dasar yang akan disampaikan. RPP tersebut dilengkapi dengan lembar observasi dan evaluasi. Tidak lupa juga dalam persiapan dan perencanaan sebelum siklus peneliti menyiapkan beberapa media pembelajaran.
2. Tahap Pelaksanaan
1) Siklus I
a) Peneliti melaksanakan kegiatan belajar mengajar pada aspek berbicara atau percakapan melalui metode sosiodrama.
b) Peneliti menjelaskan materi tentang berbicara atau percakapan dengan menggunakan metode sosiodrama serta dilengkapi dengan media atau perlengkapan yang dibutuhkan sesuai dengan teks percakapan.
c) Peneliti membagikan teks percakapan yang bertemakan peristiwa.
d) Peneliti meminta siswa untuk membentuk kelompok masing-masing kelompok terdiri dari 5/6 orang kemudian berlatih.
e) Peneliti mengevaluasi siswa untuk maju ke depan kelas memerankan tokoh sesuai dengan teks percakapan bersama kelompoknya sehingga semua siswa aktif dan terlibat langsung dalam memerankan tokoh-tokoh cerita.
2) Siklus II
Setelah siklus pertama dilaksanakan, peneliti kembali merancang pembelajaran untuk siklus berikutnya yaitu siklus II. Dimana dalam siklus II ini peneliti mencoba untuk memperbaiki proses pembelajaran dari siklus pertama, langkah-langkah yang dilakukan pada siklus II yaitu:
a) Peneliti mengulangi penjelasan tentang materi percakapan.
b) Peneliti membimbing siswa untuk berlatih berbicara melalui metode soiodrama dengan lebih menekankan bahwa kegiatan bermain drama sama halnya berbicara menggunakan gerak tubuh dan ekspresi yang sesuai.
c) Peneliti memberikan bimbingan bagi siswa yang belum biasa untuk berperan dengan baik, dan menindaklanjuti serta memotivasi siswa secara umum.
d) Peneliti melaksanakan evaluasi sebagai umpan balik dan untuk perbaikan pembelajaran. Evaluasi disini bertujuan untuk mengetahui kemampuan siswa sampai sejauh mana siswa tersebut memahami pelajaran yang telah disampaikan.

E. Teknik Pengumpulan Data
Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data penelitian adalah:
1. Observasi
Menurut Riyanto (2001:96) observasi adalah “mengadakan pengamatan secara langsung (tanpa alat) terhadap gejala-gejala subyek yang diselidiki, baik pengamatan itu dilakukan di dalam situasi sebenarnya maupun dilakukan dalam situasi buatan yang khusus diadakan”.
Berdasarkan pengertian tersebut, maka observasi yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah melakukan pengamatan terhadap segenap aktivitas belajar mengajar guru dan siwa kelas V SD Negeri 4 Kotaraja dengan menggunakan metode pembelajaran sosiodrama. Observasi dilakukan sebelum dan pada saat tindakan dilakukan.
2. LKS (Lembar Kerja Siswa)
LKS merupaka lembar kerja siswa yang digunakan untuk mengetahui hasil pemahaman siswa terhadap materi yang akan diajarkan, dimana di dalam LKS tersebut terdapat langkah-langkah proses kegiatan pembelajaran yang akan dilaksanakan oleh siswa.
3. Metode Tes
Metode tes digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa dalam pembelajaran keterampilan berbicara pada siklus I dan siklus II. Bukhari dalam Arikunto (1992:29) mengemukakan bahwa metode tes adalah suatu percobaan yang diadakan untuk mengetahui ada atau tidaknya hasil belajar tertentu pada seseorang atau kelompok siswa. Dalam penelitian ini, metode tes digunakan untuk mengetahui hasil belajar siswa dalam setiap siklusnya. Adapun jenis tes yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes subjektif yaitu tes untuk mengukur kemampuan berbicara siswa secara individu dan kelompok melalui pementasan drama di depan kelas. Selanjutnya pemberian tes objektif yaitu siswa menjawab pertanyaan berdasarkan drama yang sudah dipentaskan.

F. Instrument Penelitian
Instrument-instrumen yang akan digunakan dalam penelitian tindakan ini sebagai berikut:
1. Format Observasi
Format observasi ini berbentuk table. Format observasi ini ada dua macam, yaitu format observasi siswa dan format observasi guru. Format observasi siswa berisi aspek-aspek yang diamati, meliputi sikap siswa pada saat pembelajaran, keaktifan, terus bekerja sampai tugas terselesaikan, dan fokus perhatian. Sedangkan format observasi guru berisi kegiatan yang harus dilakukan guru di dalam kelas, mulai dari membuka pelajaran, menyampaikan tujuan pembelajaran, menjelaskan metode pembelajaran, dan seterusnya.
2. Tes
Lembar evaluasi yang digunakan berupa tes subjektif dan tes objektif dalam penilaian keterampilan berbahasa Indonesia pada aspek berbicara dengan menggunakan metode sosiodrama.

G. Teknik Analisis Data
Analisis data dilakukan dengan cara mengelompokkan data tentang kegiatan guru dan kegiatan siswa. Teknik yang digunakan adalah teknik analisis data kualitatif, Hal ini dilakukan untuk mempermudah pendeskripsian data dengan cara sebagai berikut:
1. Nilai rata-rata prestasi dapat dihitung dengan rumus:
M =
Keterangan:
M = Nilai rata-rata
∑fx = Skor keseluruhan
N = Jumlah siswa
(Arikunto, 1999 : 234)
2. Ketuntasan belajar klasikal dinyatakan telah dicapai apabila seseorang sekurang kurangnya 85% dari jumlah siswa dalam kelompok kelas yang bersangkutan memenuhi ketuntasan belajar siswa secara perorangan apabila mencapai daya serap 65% ke atas. Adapun kriteria ketuntasan belajar siswa secara klasikal dapat dihitung dengan rumus:
Pk = x 100%
Keterangan:
Pk = Persentase ketuntasan belajar klasikal
N = Banyak peserta didik yang mencapai taraf penguasaan minimal 65%
S = Jumlah peserta didik
(Mulyasa, 2004 : 27)
Penelitian ini dirancang untuk dilaksanakan dalam dua sklus. Apabila sampai siklus kedua belum tercapai ketuntasan belajar klasikal, maka tindakan dilanjutkan. Untuk mendapatkan ketuntasan belajar standar ketuntasan secara klasikal atau keseluruhan 85% (Sudjana, 1986 : 226).

H. Indikator Keberhasilan
Indikator keberhasilan yang ingin dicapai adalah:
1. Nilai evaluasi yang diperoleh siswa minimal sama dengan KKM (65).
2. Banyaknya siswa yang mencapai KKM tersebut minimal 85 % dari keseluruhan jumlah siswa.
Apabila kedua hal tersebut sudah dicapai, maka siklus berhenti dan dapat dilakukan analisis data hasil penelitian.

This entry was posted in bahasa, berbicara, indonesia, metode, sosiodrama and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s